KEKUASAAN ADALAH UJIAN BUKAN KEHORMATAAN MUTLAK
Duniaislambumiindonesia.blogspot.com - Kekuasaan sering disalahpahami sebagai simbol kemuliaan, padahal dalam pandangan Islam ia adalah amanah besar sekaligus ujian yang berat. Rasulullah ﷺ jauh hari telah mengingatkan bahwa perjalanan kekuasaan umat ini akan melalui fase-fase yang beragam—dari kepemimpinan yang adil hingga masa kekuasaan yang memaksa dan penuh kedzaliman. Hadits tentang tahapan kekuasaan ini bukan sekadar catatan sejarah, melainkan cermin bagi umat agar tidak silau oleh jabatan, tidak membenarkan kezaliman, dan tetap berpihak pada nilai keadilan.
Melalui kajian hadits dan ayat-ayat Al-Qur’an, tulisan ini mengajak pembaca merenungkan hakikat kekuasaan: ia datang atas kehendak Allah, diuji dengan amanah, dan akan dimintai pertanggungjawaban.
Dari Nu‘man bin Basyir radhiyallahu ‘anhu, ia berkata bahwa : Rasulullah shalallahu alaihi wa salam bersabda : “Akan ada masa kenabian di tengah kalian selama Allah Swt menghendakinya.Kemudian Allah Swt mengangkatnya apabila Dia menghendaki.Setelah itu akan ada khilafah yang berjalan di atas manhaj kenabian, dan itu berlangsung selama Allah Swt menghendakinya. Kemudian Allah Swt mengangkatnya apabila Dia menghendaki.Lalu akan ada kerajaan yang menggigit (mulkan ‘āḍḍan), dan itu berlangsung selama Allah Swt menghendakinya.
Kemudian Allah Swt mengangkatnya apabila Dia menghendaki. Setelah itu akan ada kerajaan yang memaksa dan dzalim (mulkan jabbariyyan), dan itu berlangsung selama Allah Swt menghendakinya.
Kemudian Allah Swt mengangkatnya apabila Dia menghendaki.
Setelah itu akan kembali khilafah di atas manhaj kenabian.”Kemudian beliau shalallahu alaihi wa salam diam. (HR. Ahmad (Musnad Ahmad).
Hadits ini dihasankan oleh beberapa ulama, di antaranya Syaikh Al-Albani).Pelajaran yang terdapat di dalam Hadits:
1- Sejarah kekuasaan umat Islam sudah diberitakan sebelumnya Hadits ini menunjukkan bahwa Rasulullah shalallahu alaihi wa salam telah menjelaskan tahapan-tahapan kepemimpinan umat Islam, dari yang ideal hingga yang penuh kedzaliman.
2- Penguasa jabbār (otoriter) adalah fase ujian,Istilah مُلْكًا جَبْرِيَّةً bermakna:
-Kekuasaan yang memaksakan kehendak
-Mengandalkan paksaan dan kekuatan
-Rentan terhadap kedzaliman dan penindasan
-Ini bukan ajaran Islam, tetapi ujian yang Allah Swt izinkan terjadi.
3- Tidak ada kekuasaan dzalim yang abadi. Setiap fase selalu diakhiri dengan kalimat:
“Kemudian Allah Swt mengangkatnya apabila Dia menghendaki” Ini mengajarkan bahwa : Kekuasaan manusia terbatas Kedzaliman tidak akan kekal Allah Swt tetap Maha Mengatur sejarah.
4- Khilafah ala kenabian adalah model kepemimpinan ideal,Ciri utamanya: Keadilan,Musyawarah,Amanah,Kepemimpinan sebagai tanggung jawab, bukan alat penindasan.
5- Hadits ini memberi harapan
Meskipun ada masa kekuasaan dzalim, hadits ini ditutup dengan kabar gembira: Akan kembalinya kepemimpinan yang adil di atas manhaj kenabian.
6- Sikap seorang Muslim
Dari hadits ini, seorang Muslim diajarkan untuk: Tidak mendukung kedzaliman,Tetap berpegang pada kebenaran,Bersabar tanpa membenarkan kesalahan dan Menjaga akhlak dan keadilan dalam kondisi apa pun.
Adapun Tema Hadits yang berkaitan dengan Al Qur'an:
1- Menegaskan bahwa kekuasaan sepenuhnya di tangan Allah Swt, diberikan dan dicabut sesuai kehendak-Nya sebagai ujian bagi manusia, dan tidak ada kekuasaan dzalim yang abadi.
“Katakanlah: Wahai Allah, Pemilik kekuasaan! Engkau berikan kekuasaan kepada siapa yang Engkau kehendaki dan Engkau cabut kekuasaan dari siapa yang Engkau kehendaki. Engkau muliakan siapa yang Engkau kehendaki dan Engkau hinakan siapa yang Engkau kehendaki. Di tangan-Mulah segala kebajikan. Sungguh, Engkau Maha Kuasa atas segala sesuatu.”
(QS. Ali ‘Imran : 26)
2- Ciri pemimpin yang adil dan diridhoi Allah Swt. Kepemimpinan ideal, sejalan dengan khilafah ‘ala minhaj an-nubuwwah. “(Yaitu) orang-orang yang apabila Kami beri kedudukan di bumi, mereka melaksanakan salat, menunaikan zakat, menyuruh berbuat yang makruf dan mencegah dari yang mungkar. Dan kepada Allah-lah kembali segala urusan.” (QS. Al-Hajj : 41)
3- Prinsip dasar kepemimpinan. Amanah dan adil penguasa jabbār menyelisihi perintah ini, sedangkan kepemimpinan ala kenabian menegakkannya. “Sesungguhnya Allah Swt menyuruh kamu menyampaikan amanah kepada yang berhak menerimanya, dan apabila kamu menetapkan hukum di antara manusia hendaklah kamu menetapkannya dengan adil…”
(QS. An-Nisa : 58)
4- Contoh kekuasaan jabbār yang dzalim. Fir‘aun adalah contoh nyata mulkan jabbariyyan: kekuasaan yang memaksa, dzalim, dan berakhir dengan kehancuran. “Sesungguhnya Fir‘aun telah berlaku sewenang-wenang di bumi dan menjadikan penduduknya berpecah belah, ia menindas segolongan dari mereka… Sungguh, dia termasuk orang- orang yang berbuat kerusakan.”
(QS. Al-Qashash : 4)
5- Kekuasaan sebagai ujian. kekuasaan adalah ujian, bukan kehormatan mutlak. “Dialah yang menjadikan kamu khalifah-khalifah di bumi dan Dia meninggikan sebagian kamu atas sebagian yang lain beberapa derajat, untuk mengujimu terhadap apa yang telah Dia berikan kepadamu.”
(QS. Al-An‘am : 165).
Kekuasaan bukan tanda kemuliaan, melainkan amanah dan ujian. Ia datang dan pergi atas kehendak Allah. Maka selamatlah mereka yang berkuasa dengan adil, dan celakalah kekuasaan yang dibangun di atas kezhaliman.
Badrussalam Sukabumi, 9 januari 2026.
Sumber : ONE Day ONE Hadist 7/1/2026.
Komentar
Posting Komentar